Pembiakan Vegetatif secara stek

LAPORAN PRAKTIKUM STEK
Pembiakan Vegetatif
Pengaruh Pemberian ZPT (Antonik, Growmore, Rootone F) Terhadap Beberapa Stek Batang

Disusun Oleh
Nama : M. Ikbal
Nim : D1A108046

Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Made Deviani Duaja, MP

Prodi Study Agronomi
Jurusan Budidaya Pertanian
Fakultas Pertanian
Universitas Jambi
2011

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Tanaman merupakan mahluk hidup yang dapat menghasilkan buah yang dapat kita manfaatkan untuk kehidupan sehari-hari baik dalam menyediakan gizi, vitamin serta segi keindahan (estetika) yang terkandung terdapat pada morfologi tanaman tersebut. Tanaman dapat kita kembangbiakan dari biji yang terdapat pada buah. Tetapi tanaman yang bersal dari buah ini akan banyak menimbulkan sifat variasi yang akan tidak sama dengan induknya.

Pebanyaan tanaman secara vegetatif alamiah adalah perbanyakan tanaman tanpa perkawinan atau tidak menggunakan biji tanaman induknya yang terjadi ata campur tanan manusia. Perbanyakan secara alami akan menimbulkan variasi yang berbeda-beda untk di jadikan tanaman yan menghasilkan.

Untuk itu salah satu aternatif  yang dapat menghasilkan tanaman yang sifat ginetik sama dengan induknya yaitu menggunakan perbanyakan tanaman secara vegetatif. Perbanyakan vegetatif  buatan merupakan perkembangbiakan tanaman tanpa melalui perkawinan. Proses perbanyakan secara vegetative buatan melibatkan campur tangan manusia. Tanaman yang biasa diperbanyak dengan cara vegetative buatan adalah tanaman yang memiliki kambium.

Stek atau cutting merupakan salah satu teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif. Tanaman yang disetek, dipotong disalah satu bagiannya.  Stek batang merupakan perbanyakan tanaman yang menggunakan potongan batang, cabang, atau ranting tanaman induknya.

Untuk dapat meningkatkan keberhasilan dalam memperbanyak tanaman secara vegetatif seperti cangkok dan stek, dikembangkan hormone yang dapat mempercepat pertumbuhan akar tanaman.

1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum mata kuliah vegetatif ini adalah untuk melihat pengaruh pemberian hormon pasa stek batang (ATONIK 6,5 L, Growmore, Rootone F) pada beberapa stek tanaman

 

                                                                                           II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Botani Tanaman
2.1.1 Tanaman Kelor
Kelor (Moringa oleifera) tumbuh dalam bentuk pohon, berumur panjang (perenial) dengan tinggi 7 – 12 m. Batang berkayu (lignosus), tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar. Percabangan simpodial, arah cabang tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang. Daun majemuk, bertangkai panjang, tersusun berseling (alternate), beranak daun gasal (imparipinnatus), helai daun saat muda berwarna hijau muda – setelah dewasa hijau tua, bentuk helai daun bulat telur, panjang 1 – 2 cm, lebar 1 – 2 cm, tipis lemas, ujung dan pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, susunan pertulangan menyirip (pinnate), permukaan atas dan bawah halus. Bunga muncul di ketiak daun (axillaris), bertangkai panjang, kelopak berwarna putih agak krem, menebar aroma khas. Buah kelor berbentuk panjang bersegi tiga, panjang 20 – 60 cm, buah muda berwarna hijau – setelah tua menjadi cokelat, bentuk biji bulat – berwarna coklat kehitaman, berbuah setelah berumur 12 – 18 bulan. Akar tunggang, berwarna putih, membesar seperti lobak. Perbanyakan bisa secara generatif (biji) maupun vegetatif (stek batang). Tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai di ketinggian ± 1000 m dpl, banyak ditanam sebagai tapal batas atau pagar di halaman rumah atau ladang.
2.1.2 Tanaman Jawe Kodok
Batang Pohon herba tegak dan merayap dengan tinggi batang pohonnya berkisar 30 cm sampai 150 cm, mempunyai penampung batang berbentuk berbentuk segi empat dan termasuk katagori tumbuhan basah yang batangnya mudah patah. Daun : Berbentuk hati dan pada setiap tepiannya dihiasi oleh jorong-jorong atau lekuk-lekuk tipis yang bersambungan dan didukung oleh tangkai daun dan memiliki warna yang beraneka ragam. Bunga : Berbentuk untaian bunga bersusun, bunganya muncul pada pucuk tangkai batang. Syarat Tumbuh: Iler dapat tumbuh subur di daerah dataran rendah sampai ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut. Iler bisa didapat disekitar sungai atau pematang sawah dan tepi-tepi jalan pedesaan sebagai tumbuhan
2.1.3 Tanaman Asoka
Tanaman soka merupakan tanaman yang menghendaki penyinaran matahari penuh teruatama untuk merangsang pembungaan. Meskipun jenisnya cukup beragam, secara umum bentuk morfologis tanaman terutama bagian bunganya tidak berbeda jauh yaitu tersusun atas beberapa bunga kecil yang masing-masing memiliki empat petal mahkota dalam satu tangkai mirip payung terbuka. Bunga soka yang masih kuncup mirip jarum sehingga akan terkesan gundukan jarum berwarna merah disaat belum mekar. Warna kelopak bunga ada yang merah, merah muda, ungu , putih dan kuning. Namun di Indonesia jumlah soka berwarna merah lebih banyak dibandingkan lainnya. Berbeda dengan bentuk bunganya, penampilan batang dan daun bunga soka bisa bermacam-macam. Ada yang lebar, ada yang sempit, ada juga yang medium tergantung asalnya. Soka Jawa lebih condong berdaun lebar dengan tandan bunga ramping dan kuntum bunganya berwarna merah.
Jenis-jenis soka terbagi dalam dua macam yaitu soka biasa dan soka hibrida. Yang tergolong soka biasa diantaranya : Ixora Coccinea, I. Lutea, I. Fulgen, I chinensis, I. Granifolia, I. Amboinica. Sedangkan soka hibrida antara lain :I. Mocrothyrsa, I. American, I. Pitsanuloke dan Soka bangkok.
2.1.4 Tanaman Kembang Sepatu
Bunga terdiri dari 5 helai daun kelopak yang dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx) sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari 5 lembar atau lebih jika merupakan hibrida. Tangkai putik berbentuk silinder panjang dikelilingi tangkai sari berbentuk oval yang bertaburan serbuk sari. Biji terdapat di dalam buah berbentuk kapsul berbilik lima.
Pada umumnya tinggi tanaman sekitar 2 sampai 5 meter. Daun berbentuk bulat telur yang lebar atau bulat telur yang sempit dengan ujung daun yang meruncing. Di daerah tropis atau di rumah kaca tanaman berbunga sepanjang tahun, sedangkan di daerah subtropis berbunga mulai dari musim panas hingga musim gugur.
Bunga berbentuk trompet dengan diameter bunga sekitar 6 cm. hingga 20 cm. Putik (pistillum) menjulur ke luar dari dasar bunga. Bunga bisa mekar menghadap ke atas, ke bawah, atau menghadap ke samping. Pada umumnya, tanaman bersifat steril dan tidak menghasilkan buah.
2.1.5 Tanaman Kembang Kertas.
Pada waktu tanaman ini berbunga, tanaman ini mempunyai kebiasaan merontokkan beberapa daunnya. Bentuknya adalah pohon kecil yang sukar tumbuh tegak. (Seludang bunga ( atau spatha) merupakan daun pelindung, yang seringkali berukuran besar, yang menyelubungi seluruh bunga majemuk waktu belum mekar. Seludang bunga dapat dijumpai pada struktur generatif (“bunga”) tumbuhan anggota suku aren-arenan (Arecaceae dan suku talas-talasan (Araceae). Seludang bunga sebenarnya merupakan suatu bentuk khusus dari daun pelindung (bractea)).
2.1.6 Tanaman Mawar (Rosa canina)
Klasifikasi
Kerajaan : Plantae
Devisi : Magnoliopyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rosales
Famili : Rosaceae
Genus : Rosa L
Spesies : Rosa canina
Tanaman Mawar mempunyai daun yang panjangnya antara 5-15 cm, dua-dua berlawanan (pinnate). Daun majemuk yang tiap tangkai daun terdiri dari paling sedikit 3 atau 5 hingga 9 atau 13 anak daun dan daun penumpu (stipula) berbentuk lonjong, pertulangan menyirip, tepi tepi beringgit, meruncing pada ujung daun dan berduri pada batang yang dekat ke tanah. Mawar sebetulnya bukan tanaman tropis, sebagian besar spesies merontokkan seluruh daunnya dan hanya beberapa spesies yang ada di Asia Tenggara yang selalu berdaun hijau sepanjang tahun.
Bunga terdiri dari 5 helai daun mahkota dengan perkecualian Rosa sericea yang hanya memiliki 4 helai daun mahkota. Warna bunga biasanya putih dan merah jambu atau kuning dan merah pada beberapa spesies. Ovari berada di bagian bawah daun mahkota dan daun kelopak. Bunga menghasilkan buah agregat (berkembang dari satu bunga dengan banyak putik) yang disebut rose hips. Masing-masing putik berkembang menjadi satu buah tunggal (achene), sedangkan kumpulan buah tunggal dibungkus daging buah pada bagian luar. Spesies dengan bunga yang terbuka lebar lebih mengundang kedatangan lebah atau serangga lain yang membantu penyerbukan sehingga cenderung menghasilkan lebih banyak buah. Mawar hasil pemuliaan menghasilkan bunga yang daun mahkotanya menutup rapat sehingga menyulitkan penyerbukan. Sebagian buah mawar berwarna merah dengan beberapa perkecualian seperti Rosa pimpinellifolia yang menghasilkan buah berwarna ungu gelap hingga hitam.

2.1.7. Tanaman Tapak Dara (Catharanthus roseus)
Klasifikasi
Kerajaan :Plantae Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Gentianales
Famili : Apocynaceae
Genus : Catharanthus
Spesies : C. roseus
Habitus perdu tumbuh menyamping, Tinggi tanaman bisa mencapai 0,2-1 meter. Daunnya berbentuk bulat telur, berwarna hijau, tersusun menyirip berselingan. Panjang daun sekitar 2-6 cm, lebar 1-3 cm, dan tangkai daunnya sangat pendek. Batang dan daunnya mengandung lateks berwarna putih.
Bunganya aksial (muncul dari ketiak daun). Kelopak bunga kecil, berbentuk paku. Mahkota bunga berbentuk terompet, ujungnya melebar, berwarna putih, biru, merah jambu atau ungu tergantung kultivarnya. Buahnya berbentuk gilig (silinder), ujung lancip, berambut, panjang sekitar 1,5 – 2,5 cm, dan memiliki banyak biji.

2.1.8 Tanaman Alamanda (Allamanda cathartica)
Klasifikasi
Kerajaan : Plantae
Filum : Basidiomycota
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Apocynales
Famili : Apocynaceae
Genus : Allamanda
Spesies : Allamanda cathartica
Tanaman alamanda termasuk dalam golongan perdu berkayu dengan tinggi yang dapat mencapai 2 meter. Tanaman ini bersifat evergreen (hijau sepanjang tahun). Batangnya yang sudah tua akan berwarna cokelat karena pembentukan kayu, sementara tunas mudanya berwarna hijau. Daunnya memiliki bentuk yang melancip di ujung dengan permukaan yang kasar dengan panjang 6 hingga 16 cm. Selain itu daun alamanda pada umumnya berkumpul sebanyak tiga atau empat helai. Bunga alamanda berwarna kuning dan berbentuk seperti terompet dengan ukuran diameter 5-7.5 cm. Tanaman ini memiliki bunga yang harum.
2.1.9 Tanaman Samabang Colok
Klasifikasi tanaman :
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Classis : Dicotyledonae
Ordo : Carryophyllales
Familia : Amaranthaceae
Genus : Aerva
Species : Aerva sanguinolenta (L.) Bl.

Morfologi tanaman
Herba tegak, tinggi 0,5-2 m, batang berbentuk bulat dengan pangkal berkayu, beruas, berwarna merah keunguan dan bercabang-cabang. Daunnya tunggal, merah, bertangkai, berhadapan, helaian daun bentuk bulat, ujung terbelah, bertepi rata, pangkal meruncing, pertulangan menyirip, pada sisi atas berkilat, berbulu pendek, panjang 2-8 cm, lebar 1-5 cm dan tangkai daun panjang 1-6 cm. Bunga majemuk, bentuk bulir, di ketiak daun, panjang 0,75-10 cm, berkelamin 2, tangkai sari pangkalnya berlekatan, bentuk mangkok, kepala sari dua, tangkai putik pendek kecil, kepala putik 1, taju 2, perhiasan bunga 5, panjang + 2 mm, berbulu halus dan putih. Buah pipih dan hitam. Biji kecil dengan warna hitam mengkilat. Akar tunggang dan merah keunguan (Backer and Bakhuizen van den Brink, 1965)
Tanaman ini tumbuh liar di halaman dan di ladang-ladang sampai setinggi kira-kira 1000m dari permukaan laut. Terdapat di Afrika, Malaysia, Cina bagian selatan, Filipina, Taiwan bagian selatan dan Indonesia. Di Indonesia penyebarannya terdapat di daerah Jawa dan Madura. Banyak ditanam di halaman-halaman sebagai tanaman hias.

2.2 Syarat Tumbuh
Tanaman ini biasanya dapat tumbuh disegala jenis tanah, mulai dari tanah berpasir hingga tanah lempung. Akan tetapai, tanah yang ideal adalah tanah lempung berpasir yang dranasenya baik serta subur, banyak mengandung bahan organic dan unsure hara yang cukup. pH tanah yang paling di sukai oleh tanaman ini adalah 5,8-6,9. Apabila tanah kurang dari kisaran atau melebihi ketentuan bisa di beri perlakuan pupuk organik atau perlakuan lainya yang baik untuk pertumbuhan tanaman.
Udara yang sangat dingin akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, bahkan mungkin menjadi mati. Pertumbuhan tanaman yang baik bila udara sejuk, suhu pada malam antara 10 ¬0C-20¬0C dan siang hari antara 19-29 ¬0C .suhu yang terlalu tinggi akan menyebabkan banyak buah tanaman yang rontok. Apabila dibawah kisaran tersebut tanaman akan terhambat pertumbuhannya.
2.3. Stek Batang
stek batang merupakan suatu perbanyakan vegetatif dengan mengambil bagian tanaman, lalu ditancapkan kedalam media yang telah disediakan. Teknik perbanyakan secara vegetatif ini memiliki beberapa keuntungan diantaranya :
1. Sifat tanaman baru sama dengan sifat induknya
2. Bagian bahan induk yang digunakan untuk bahan stek relatif sedikit, sehingga tidak merugikan tanaman induk.
3. Stek mudah dilakukan dan tidak perlu menggunakan teknologi yang rumit
4. Biaya relatif sedikit dan memerlukan waktu sedikit.
5. Jumlah tanaman yang dihasilkan lebih banyak dari pada teknik yang lain.
6. Tanaman baru hasil stek memiliki keseragaman umur.

2.4 Zat Pengatur Tumbuh
Untuk meningkatkan keberhasilan dalam memperbanyak tanaman secara vegetative seperti stek, cangkok, dikembangkan hormon yang dapat mempercepat pertumbuhan akar tanaman. Penggunaan hormone yang bisa merangsang pertumbuhan tanaman pertama diteliti oleh para peneliti perbanyak vegetative yaitu Dr. Frits W.
Zat pengatur tumbuh tersebut dapat mempengaruhi sebagian efikotil. Epikotil adalah bagian sumbu tanaman atau batang pembibitan yang berada diatas daun pertama yang berkembang pada embrio biji. Hormon-hormon yang termasuk kedalam golongan auksin adalah AIA,ANA,AIB. Hormone tersebut bersifat rizokalin yang dapat merangsang pertumbuhan akar, kaulokalin yang dapat merangsang pertumbuhan batang, dan antokalin yang dapat merangsang pertumbuhan bunga.
Zat pengatur tumbuh ini dipakai dengan cara mengoleskan kebagian tanaman yang dilukai. Penggunaan ZPT dalam perbanyakan tanaman secara vegetatif dapat mempercepat keluarnya akar dan mempercepat pemotongannya.
Zat pengatur tumbuh seperti antonik mengandung beberapa hormon diantanya Auksin sintetis yang akan mendorong pembelahan sel, pembesaran dan pemanjangan sel melalui pengaktipan pomfa ion pada plasma membran, dinding sel menjadi longgar yang mengakibatkan tekanan pada dinding sel menjadi berkurang . Air akan mudah masuk kedalam sel , sehingga akan terjadi pembesaran dan pemanjangan sel.
Growmore adalah pupuk daun lengkap dalam bentuk kristal biru sangat mudah larut dalam air, dapat diserap dengan mudah oleh tanaman baik dalam penyemprotan daun maupun disiram ke tanah. Growmore formula 32-10-10 untuk tanaman muda agar segera menjadi kuat dan cepat pertumbuhannya. Growmore juga diperlukan bagi tanaman yang saat-saat akhir kurang memerlukan unsur phospat & kalium yang tinggi. (Lembah pinus, 2010)

Rootone – F berpengaruh terhadap pertumbuhan stek batang. Sesuai dengan fungsi dan kegunaannya bahwa zat pengatur tumbuh
Rootone – F merupakan senyawa atau zat kimia yang dalam konsentrasi rendah dapat merangsang, menghambat atau sebaliknya menggubah proses fisiologis dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, terutama pada bagian-bagian vegetatif dari tanaman, dimana hal ini tergantung dari tiap-tiap jenis tanaman atau sifat-sifat dari masing-masing jenis tersebut berasal (Elisabeth,2004)
Pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap pertumbuhan tanaman adalam memperbaiki sistem perakaran, meningkatnya penyerapan unsur hara dari tanah, menambah aktivitas enzim, menambah jumlah klorofil dan meningkatkan fotosintesa, memperbanyak percabangan, menambah jumlah kuncup dan bunga serta mencegah gugurnya bunga dan buah kemudian meningkatkan hasil panen.

 

                                                                                     III. METODE PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Desa Mendalo Darat Kecamatan Jambi Luar kota. Kabupaten Muaro Jambi. Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 15 oktober 2011.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum pertama adalah stek batang jawe kodok, , asoka, tanaman kelor (Moringa oleifera), dengan hormon Atonik. polybag,
Bahan yang digunakan dalam praktikum kedua adalah stek batang kembang sepatu dan kembang kertas dengan hormon growmore,
Bahan yang digunakan dalam praktikum ketiga adalah stek batang Kelor (Moringa oleifera) , Mawar (Rosa canina) ,Alamanda (Allamanda cathartica), Puring (Codiaeum variegatum ), Mangkok (Nothopanax scutellarium ), Tapak Dara, Rootone F.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah stek batang bunga Sambang Colok, Rootone F
Alat yang digunakan terdiri dari alat tulis dan kamera
3.3 Cara Kerja Praktikum.
Mengamati semua tanaman, dan melakukan pemeliharaan baik berupa gulma yang ada di dalam polybag, dan melakukan penyiranaman. Lalu melakukan pengamatan seluruh tanaman yaitu dengan mencatat tinggi tunas, jumlah dauan , dan keterangan keadaan tanaman.

                                                                                          IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum Pertama
Berdasarkan 24 Hari setelah penanaman tanaman dapat dilihat ada yang baru muncul tunas dan ada juga yang belum. Dapat dilihat pada table 1 :
Tabel Pengamatan Praktikum 1.

Keterangan

Tabel :
 : Ada Tunas tetapi, belum bisa di ukur.
Dari tabel diatas terlihat bahwa pemberian hormone tumbuh belum terlihat pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman. Hal ini dikarenakan factor lingkungan yang kurang mendukung, untuk pertumbuhan tanaman tesebut. Dan juga factor teknis pada saat pengambilan bagian batang tanaman tersebut, biasanya bagian yang diambil tidak boleh terlalu tuan dan terlalu muda. Kalau bagian yang terlalu muda bagian tanaman ini akan mudah roboh dan terserang hama penyakit. Sedangkan kalau bagian batang yang sudah tua tunas adventifnya akan kesulitan untuk muncul kepermukaan karena terlalu keras.
Tanaman yang belum mengeluarkan tunas ini masih hidup hal dinyatakan bahwa warna batang tanaman tesebut masih berwarna hijau. Kemungkinan tanaman ini memerlukan beberapa hari lagi akan memunculkan tunas.
Pada pemberian antonik pupuk akar ini , stek pada prktikum ini mulai muncul pada umur 5-7 hari baru muncul tunas. Ini dikarnakan hormon akan mempercepat merangsang pertumbuhan tunas dan akar.
2.1 Hasil Praktikum kedua
Berdasarkan 20 Hari setelah penanaman tanaman dapat dilihat ada yang baru muncul tunas dan ada juga yang belum. Dapat dilihat pada table 1 :
Tabel Pengamatan Tanaman Praktikum ke-2

Keterangan Tabel :
 : Ada Tunas tetapi, belum bisa di ukur.

Dari tabel diatas terlihat bahwa pemberian hormone dapat terlihat pertumbuhan tanaman berkembang sangat pesat. Hal ini dikarenakan peranan hormon sangat mempengaruhi perkembangan tanaman.
2.3 Hasil Praktikum Ketiga
Berdasarkan 15 Hari setelah penanaman tanaman dapat dilihat ada yang baru muncul tunas dan ada juga yang belum. Dapat dilihat pada table 1 :
Tabel Pengamatan Tanaman Praktikum ke-3

Keterangan Tabel :
 : Ada Tunas tetapi, belum bisa di ukur.
Dari tabel diatas terlihat bahwa hampir semua tanama tumbuh dengan perlakuan pemberian hormon. Hal ini menunjukan bahwa zat pengatur tumbuh Rootone – F berpengaruh terhadap pertumbuhan stek batang. Sesuai dengan fungsi dan kegunaannya bahwa zat pengatur tumbuh
2.4 Hasil Praktikum kieempat
Berdasarkan 7 Hari setelah penanaman tanaman dapat dilihat ada yang baru muncul tunas dan ada juga yang belum. Dapat dilihat pada table 1 :
Tabel Pengamatan Tanaman Praktikum ke-4

Keterangan Tabel :
 : Ada Tunas tetapi, belum bisa di ukur.
Dari tabel diatas dapat dikatakan hampir semua tanama n tumbuh. Hal ini menunjukan bahwa zat pengatur tumbuh Rootone – F berpengaruh terhadap pertumbuhan stek batang. Sesuai dengan fungsi dan kegunaannya bahwa zat pengatur tumbuh . Pertumbuhan dari stek batang Tectona grandis L.F dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi Rootone – F yang diberikan , dan ukuran diameter stek yang digunakan.

4.2 Pembahasan
Pemberian ZPT ini merupakan hormon yang bisa menpercepat pertumbuhan akar maupun tunas. Dari hasil terlihat bahwa tanaman yang diberi perlakuan ZPT belum mengeluarkan tunas, sedangkan tanaman yang control lebih cepat mengeluarkan tunas. Hal ini dinyatakan bahwa adanya factor internal maupun external. Factor internal ini dikarenakan oleh genetic tanaman jawe kodok dan asoka lebih cepat mengeluarkan tunas.
Zat pengatur tumbuh Atonik mengandung bahan aktif triakontanol, yang umumnya berfungsi mendorong pertumbuhan, dimana dengan pemberian zat pengatur tumbuh terhadap tanaman dapat merangsang penyerapan hara oleh tanaman . Atonik dapat juga untuk meningkatkan hasil atau produksi, mutu, warna, kandungan vitamin dan menciptakan buah matang seragam serta menciptakan daya tahan terhadap serangan hama. Atonik merupakan zat pengatur tumbuh yang berbentuk cairan berwarna kecoklatan. Zat pengatur tumbuh Atonik diproduksi oleh PT. Mastalin Mandiri, Jakarta. Adapun konsentrasi anjuran adalah 2 cc/l air (nunung, 2010).
Pada prktikum ini terlihat bahwa tanaman kelor ada sebagian yang tumbuh dan ada pula yang mati. Hal ini dikarenakan kemungkinan terdapat bagian tanaman yang terlalu muda dan yang terlalu tua dan tidak bisa tumbuh dengan baik.
Pemberian Growmore sebagai pupuk daun lengkap dalam bentuk kristal biru sangat mudah larut dalam air, dapat diserap dengan mudah oleh tanaman baik dalam penyemprotan daun maupun disiram ke tanah. Growmore formula 32-10-10 untuk tanaman muda agar segera menjadi kuat dan cepat pertumbuhannya. Terlihat pada bahan stek yang diolesi growmore tanaman dapat tumbuh dengan baik. Hampir 100% tumbuh.
Pada Rootone-F sangat aktif mempercepat dan memperbanyak keluarnya akar sehingga penyerapan air dan unsur hara tanaman akan banyak dan dapat mengimbangi penguapan air pada bagian tanaman yang berada di atas tanah dan secara ekonomis penggunaan Rootone-F dapat menghemat tenaga, waktu, dan biaya.
Zat pengatur tumbuh Rootone-F termasuk dalam kelompok auksin. Secara teknis Rootone-F sangat aktif mempercepat dan memperbanyak keluarnya akar sehingga penyerapan air dan unsur hara tanaman akan banyak dan dapat mengimbangi penguapan air pada bagian tanaman yang berada di atas tanah.

 

                                                                                    VI. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa pemberian hormon dapat memberikan pertumbuhan yang baik sesuai dengan sifat genetic tanaman tersebut.
pada Praktikum dapat disimpulkan bahwa pemberian hormon Atoni, memberikan pengaruh pada stek dengan jangka waktu 10-15 hari setelah tanman tunas baru muncul, sedangkan growmore memberikan respon pada tanaman 5-7 hari setelah tanam, dan rootone F memberikan respon pada tanaman 5-7 hari setelah tanam.
Dari beberapa perlakuan hormon yang telah diberiakan pada tanaman. Hormon Growmore dan Rootone F memberiakn respon pertumbuhan yang baik pada stek tanaman .
5.2 Saran
Untuk praktikum ini perlu dilakukan pemeliharaan yang intensif, serta evaluasi teknis pemotongan bagian tanaman yang akan di stek.dan dosis penggunaan Hormon tumbuh yang sesuai.

About these ads

About ikbalunja

Informasi tentang perkuliahan

Posted on Oktober 15, 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: